PETAN [bukan osteochilus-brachynotopterus*]

Adalah tradisi masyarakat lama untuk mencari kutu —beserta telur dan anak-anaknya— yang bersarang di kepala dan rambut seseorang, entah laki-laki, entah perempuan. Kegiatan petan ini biasanya dilakukan oleh para ibu pada waktu senggang — atau bahkan waktu yang sengaja disenggang-senggangkan. Di hari yang terang. Di teras depan atau samping rumah atau mungkin di pelataran. Minimal harus terdiri dari dua orang: yang me-metan dan yang di-petan. Lalu posisi duduk lazimnya berundak-undak, agar si pemetan bisa lebih berkuasa atas kepala yang dipetan. Terasa lucu adalah ketika kontestan per-petan-an berjumlah lebih dari tiga orang. Maka mereka akan membentuk formasi serupa kereta mainan. Sepur, begitu para lidah jawa mengalihbahasakan kereta. Sepur mainan. Sepur-sepuran.

Kutu rambut memang serupa setan. Mengerikan. Ia beruas-ruas dan gelap. Segelap warna rambut seseorang. Dan lebih sering dijumpai pada perempuan. Sebab rambut perempuan itu biasanya panjang. Sehingga memudahkan para kutu untuk melancarkan aksinya. Beranak-pinak. Menghisap darah. Seperti drakula. Ehem. Drakula serangga.

Sewaktu usiaku masih dikata kanak-kanak, kepalaku juga pernah beberapa kali dihuni oleh kutu sialan itu. Sama seperti anak-anak lain di daerahku. Tumonan. Begitu orang-orang menamainya. Sebab kutu disebut tumo dalam bahasa jawa. Kutuan. Tumonan. Rasanya sungguh gatal. Serupa ada neraka di kepala. Anehnya, semakin digaruk, semakin terasa gatal. Dan aku memiliki reflek garuk yang mengerikan. Dan garuk-garukan itu membuat ketagihan.

Kemudian adalah serupa petaka setiap kali mendengar teriakan ibu yang nyaring, memanggil untuk petan. Petan di halaman depan. Disaksikan orang-orang yang lewat. Dan sesekali mereka menyapa, untuk sekadar basa-basi. Tak jarang pula ada yang mengomentari tanpa permisi. Tapi apa boleh dikata, para dewasa memang terkadang —atau bahkan seringkali— tak pernah memperhitungkan perasaan anak-anak, sebelum bibir mereka benar-benar terbang kesana-kemari memproduksi serentetan kalimat-kalimat yang entah dengan atau tanpa sengaja mengena dan menyakitkan. Para dewasa memang seringkali payah dalam memperlakukan anak-anak. Entahlah. Mungkin pemahaman mereka mengenai bibir tak lebih luas dari fungsi mencibir. Atau mungkin mereka menganggap bahwa perasaan anak-anak selalu bisa dibeli dengan permen atau eskrim.

Dan setiap kali cibiran itu tertuju padaku, maka yang membayar adalah tindakan ibu yang —menurutku— lucu. Lucu dan agak menjijikkan lebih tepatnya. Ia, ibuku, pasti akan membuat suasana menjadi tegang ketika ia mendapati seekor tumo yang tengah berjalan di kepalaku, melewati helai rambut satu ke helai berikutnya. Aku dimintanya diam dan dilarang bergerak. Lalu seketika ia berhasil menjimpit sang tumo, maka ia tak segan-segan memasukkan tumo ke dalam mulutnya dan lalu menggigitnya hingga terdengar bunyi ‘klethusss’. Maka tamatlah riwayat sang tumo. Mampus ia dihimpit gigi. Kemudian ibu pasti akan meludah. Maka jadi jasad tumo melayang bersama ludah ibu.

Biarpun demikian, petan tetap saja selalu mengerikan. Sebab ia akan terus berjalan sampai ibuku merasa pantas untuk menyudahinya. Ya, jika ibu telah mendapat banyak tumo, banyak anak tumo — yang biasa disebut-sebut sebagai kor, dan juga banyak telur tumo atau yang sering disebut dengan liso — ia serupa mikro kapsul cod yang dengan erat melekat di batang rambut, yang tak bisa lepas dengan sendirinya kecuali diserut. Dalam sehari, tumo dapat menghasilkan sejumlah delapan telur. Dan telur-telur ini baru akan menetas setelah lebih kurang delapan hari. Pengecualian untuk kor dan liso, ibuku tak melumatnya. Ia cukup menggilas mereka dengan kedua kuku jempol tangannya. Sebab baginya, citarasa yang dihasilkan kor dan liso itu payah, tidak menggairahkan, tidak seperti yang dimiliki tumo.

Seiring melajunya zaman, tradisi petan mulai terkubur di bawah jembatan. Disayangkan, biarpun ia mengerikan.
Ah, apapun. Puja dewa petan!

________________
*jenis ikan air tawar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: