Pantai dan Kemungkinan Kedamaian

Pernahkah kau merasa batinmu penuh sesak akan kekosongan, tetapi kau sama sekali tak merasakan adanya lengang? Lengang telah menyublim dari peradaban, melarungkan dirinya ke pantai selatan. Sementara kekosongan menjajakan dirinya secara sporadis ke segala penjuru ruang yang lembab juga kerontang. Tanpa permisi ia menghuni setiap rongga batin yang menganga. Beranak-pinak, dan lalu pindah ke rongga berikutnya, beranak-pinak lagi, berpindah lagi, beranak-pinak lagi, berpindah lagi, begitu seterusnya hingga ia bisa merengkuh wilayah kekuasaannya hingga garis batas terluar. Ia menjelma serupa substansi yang valenz. Entah itu avalenz, monovalenz, divalenz, atau bahkan trivalenz. Maka jadilah ia serupa manasuka. Kalau sudah demikian itu, maka tak ada yang bisa mengehentikannya, kecuali kau lari ke pantai dan melarungnya bersama segenap tubuhmu. Atau mungkin berteriak. Ah, tapi berteriak pun tak selalu melegakan rongga batin. Sebab spora-spora actinomycetes yang memenuhi dinding rongga pastinya melekat dengan sangat erat bersama kekosongan. Mereka hanya menyuguhkan kamuflase gerak melambai sehingga seolah-olah mereka tengah melebur selama teriakan mengalir menjamah tubuh mereka yang telanjang dan serupa kecokelatan. Mungkin duduk diam berlama-lama memandangi lautan lepas beserta garis batasnya dari bibir pantai bisa jadi pilihan. Mungkin di sana ada kedamaian yang bisa meluluhkan dan kemudian melarung kekosongan. Mungkin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: