Ibu dan celana dalamku.

Ibu selalu mencak-mencak lucu setiap kali melihatku memakai topi celana dalam. Bukan topi yang yang bentuknya menyerupai celana dalam. Bukan juga topi yang bermerek celana dalam. Tetapi memang topi itu benar-benar celana dalam. Ya, celana dalam itu kupakai laiknya topi sungguhan: mentutupi kepala, bukan vagina.

Tadinya kupikir sebab topi celana dalam yang kupakai waktu itu berwarna hitam. — Ibu tak menyukai warna itu. Warna kematian, katanya. — Ternyata bukan, sebab ketika aku di lain hari memakai yang berwarna merah marun, warna kesukaanya, dia pun mencak-mencak lucu. Simpulannya adalah dia mencak-mencak sebab kebiasaanku itu: memakai topi celana dalam.

Baginya, kebiasaanku itu buruk, tidak sopan, tidak seharusnya, jorok dan menjijikkan. Tentu saja semua itu tidak benar menurutku. Toh sama-sama menutupi rambut, bukan? Ehem. Omong-omong soal rambut, kala itu aku baru mempunyai rambut di kepala, sebab aku masih menduduki kelas TK nol kecil. Jadi ya wajar saja kalau di sekitar vaginaku belum ditumbuh rambut. Jembut, begitu orang dewasa menyebutnya. Istilah itu pun belum kekenal kala itu. Tetapi, tetap saja, ibu selalu mencak-mencak lucu.

Soyo diilikke, malah soyo ndodro. Semakin dilarang, malah semakin sering dilakukakan. Namanya juga anak-anak. Dikasih tahu, bukannya berhenti, malah dilanjut. Sebab, semakin sering kebiasaan memakai topi celana dalam kulakukan, semakin sering pula ibu mencak-mencak lucu, dan itu sama dengan semakin sering perhatian yang kudapatkan.

Bukan lagi hanya sekadar celana dalam yang bersih. Celana dalam yang usai kupakai pun jadi. Dan itu benar kulakukan setiap kali aku pergi ke kamar mandi untuk eek. Aku jongkok di atas kakus dengan memakai topi celana dalam yang tadinya kupakai. Jadi tak perlu repot menjinjitkan kaki untuk meraih gantungan yang letaknya beberapa senti di atas kepalaku. Praktis, bukan? Tetapi, tetap saja, ibu selalu mencak-mencak lucu. Sebab dia mengetahui hal itu. Sebab pintu kamar mandi selalu kubiarkan terbuka jika aku tengah berada di dalamnya. Sebab aku takut kalau hantu kamar mandi muncul tiba-tiba.

Beranjak remaja, aku mulai menstruasi. Vaginaku mengeluarkan darah, yang terkadang darah itu berupa gumpalan kecil. Mulai sejak itu pula di sekitar vaginaku mulai ditumbuhi bulu-bulu jembut yang masih lembut. Lama-lama menjadi rambut. Rambut jembut. Tetapi rambut itu tidak tumbuh panjang, sepanjang rambut kepalaku. Paling hanya dua sampai tiga sentimeter. Itu pun tidak lurus, melainkan keriting. Dan rambut jembut itu macam rambut gatal, sebab ia bertekstur kasar dan diameternya lebih besar. Kalau dielus, serupa bergerigi, serupa beruas-ruas.

Pernah suatu ketika, aku menjadi resah. Resah karena rambut jembutku tak kunjung tumbuh panjang, menjuntai, melambai pada lantai. Resah karena aku tak bisa mengucirnya, apalagi mengepangnya. Malu jika harus bertanya pada ibu. Lama aku memikirkan hal itu. Lalu aku ingat bahwa beberapa minggu sebelumnya aku pernah menyampo ketiakku yang sudah ditumbuhi bulu — kata ibu, ketiakku bau, sehingga aku harus menyamponya. Akhirnya kuputuskan saja diam-diam menyampo rambut jembutku. Hasilnya? Wangi. Kesat. Namun kutunggu beberapa hari kemudian, beberapa minggu kemudian, beberapa bulan kemudian, tak kunjung panjang menjuntai juga. Semakin hari, semakin keriting malah. Dari situ aku jadi tahu kenapa rambut kepalaku yang dulunya lurus — dulu, sewaktu aku masih duduk di bangku TK — sekarang jadi berlekuk-lekuk menyerupai ombak. Celana dalam.

Tetapi, tetap saja, ibu selalu mencak-mencak lucu. Sebab hingga saat ini, kebiasaan itu masih ada padaku. Sebab hingga saat ini, aku masih mengharapkan rambut keriting yang berlekuk-lekuk seperti milik Maria Belen dalam Dulce Maria itu ada padaku.

Jadi, ibu, jangan salahkan celana dalamku.

3 comments
  1. setya adiwijaya said:

    hahahahaha,lumyan lucu..

  2. kelami said:

    Ew……. Menjijikan topi celana dalam . ƍàk praktis tauuuu

  3. yadi said:

    Emang ukuran celana dalam ibu berapa ? Ko bisa buat topi,,kwkwkwkwkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: