Kota Kelamin, Suatu Ketika. *)

Kelamin-kelamin perempuan berpendar di awang-awang.
Kelamin-kelamin perempuan berjatuhan.
Suaranya mengerikan.

Plakk! Pukk! Cakk! Pyarr! Brukk! Klotak! Crang! Klang! Bumm!!
Bumm! Klang! Crang! Klotak! Brukk! Pyarr! Cakk! Pukk! Plakk!!
Pukk! Pyarr! Klotak! Klang! Plakk! Cakk! Brukk! Crang! Bumm!!
Klang! Klotak! Pyarr! Pukk! Bumm! Crang! Brukk! Cakk! Plakk!!
Pyarr! Klang! Cakk! Crang! Pukk! Klotak! Plakk! Brukk! Bumm!!
Klotak! Pukk! Crang! Cakk! Klang! Pyarr! Bumm! Brukk! Plakk!!
Klang! Crang! Klotak! Brukk! Pyarr! Cakk! Pukk! Plakk! Bumm!!
Pukk! Cakk! Pyarr! Brukk! Klotak! Crang! Klang! Bumm! Plakk!!
Crang! Brukk! Cakk! Plakk! Klang! Klotak! Pyarr! Pukk! Bumm!!
Cakk! Brukk! Crang! Bumm! Pukk! Pyarr! Klotak! Klang! Plakk!!
Brukk! Plakk! Klotak! Pukk! Crang! Cakk! Klang! Pyarr! Bumm!!
Brukk! Bumm! Pyarr! Klang! Cakk! Crang! Pukk! Klotak! Plakk!!
Plakk!!!!!!! Bumm!!!!!!!!!

Orang-orang berlarian. Morat-marit. Menjerit-jerit. Melengking-lengking. Menghindari bahaya. Menghindari maut. Menuju sudut-sudut kota.
Beberapa tertimpa kelamin-kelamin yang berjatuhan. Kelamin-kelamin besar. Seketika tewas. Mengenaskan.
Beberapa tidak. Masih berlarian. Masih morat-marit. Sesekali tersandung kelamin. Terjatuh. Bangun. Berlarian. Terjatuh lagi. Bangun lagi. Berlarian lagi. Mencari tempat yang aman untuk berlindung. Menuju gedung-gedung.

Kelamin-kelamin perempuan masih berjatuhan. Merobohkan gedung-gedung. Orang-orang di dalam gedung menjerit-jerit. Melengking-lengking. Beberapa tewas. Beberapa setengah tewas. Beberapa setengah hidup. Sisanya masih hidup. Berlarian mencari celah untuk keluar.

Kelamin-kelamin perempuan masih berjatuhan. Merobohkan rumah-rumah. Orang-orang di dalam rumah tewas seketika. Tanpa sempat menjerit-jerit. Melengking-lengking.
Kelamin-kelamin perempuan masih berjatuhan. Orang-orang masih berlarian. Orang-orang masih morat-marit. Di jalanan. Di lapangan. Di taman. Di selokan.

Hingga dua kelamin terakhir menerjang:
Klakkk!!!!!!!
Klakkk!!!!!!!!!

Kelamin-kelamin perempuan tidak lagi berjatuhan.
Sejenak kemudian, lengang.

Kelamin-kelamin perempuan berukuran besar.
Kelamin-kelamin perempuan berserakan.
Kelamin-kelamin perempuan berhilang bentuk, pecah.
Kelamin-kelamin perempuan bersimbah darah.
Kelamin-kelamin perempuan berbau anyir nanah, merah.

Orang-orang yang masih tersisa, mulutnya ternganga. Dadanya berdegup-degup dengan dahsyatnya. Selang tujuh puluh menit degup jantung masing-masing orang berangsur-angsur mereda. Satu per satu orang mulai mendekati kelamin-kelamin yang berserak. Orang-orang berkerumun pada kelamin-kelamin yang berserak. Berdecak-decak. Sok kagum. Berdesis-desis. Dari telinga satu ke telinga lainnya. Orang-orang memang begitu. Sok tahu.

Kelamin-kelamin perempuan tidak tidur.
Kelamin-kelamin perempuan hanya memejamkan mata.
Kelamin-kelamin perempuan mendengar desis-desis orang-orang.

Kelamin-kelamin perempuan satu per satu membuka mata.
Kelamin-kelamin perempuan mulai menggeliat.
Kelamin-kelamin perempuan mulai mengaum.
Kelamin-kelamin perempuan mulai mengembik.
Kelamin-kelamin perempuan mulai menguik.

Orang-orang kembali berlarian. Tidak laki, tidak perempuan. Morat-marit. Menjerit-jerit.
Orang-orang dikejar-kejar kelamin-kelamin. Tidak laki, tidak perempuan. Morat-marit. Menjerit-jerit.

Perempuan-perempuan jadi sasaran. Perempuan-perempuan mulai dilumat oleh kelamin-kelamin perempuan. Perempuan-perempuan tumbang. Perempuan-perempuan menjadi kelamin-kelamin perempuan. Tetapi tidak besar.

Laki-laki mulai jadi sasaran. Satu per satu laki-laki dikejar-kejar kelamin-kelamin besar dan kelamin-kelamin tidak besar. Satu per satu laki-laki mulai dilumat kelamin-kelamin besar dan kelamin-kelamin tidak besar. Tetapi semua laki-laki tidak tumbang. Sebab mereka lanang.

Kelamin-kelamin perempuan mengaum.
Kelamin-kelamin perempuan mengembik.
Kelamin-kelamin perempuan menguik.

Lalu, satu per satu kelamin-kelamin perempuan menjilat-jilat kelamin-kelamin yang menggantung pada selangkangan semua laki-laki itu.
Satu per satu laki-laki mulai menggelinjang.
Satu per satu laki-laki mulai mengerang keenakan.

Kelamin-kelamin perempuan mulai membirahi. Kelamin-kelamin perempuan mulai menindih kelamin-kelamin laki-laki. Menekan-nekan. Menggesek-gesek. Melumat buah zakar habis-habisan. Hingga satu per satu laki-laki mulai terengah-engah. Satu per satu laki-laki mulai mencapai basah. Maka, satu per satu laki-laki mulai lengah. Satu per satu laki-laki mulai tertunduk pasrah. Kalah.

Kelamin-kelamin perempuan mulai tertawa lebar-lebar. Hingar bingar. Terdengar menjijikkan.

Kelamin-kelamin perempuan masih tertawa lebar-lebar.
Dan tiba-tiba halilintar-halilintar berdatangan. Menyambar-nyambar. Kelamin-kelamin perempuan menjerit-jerit. Memekakkan telinga semua laki-laki yang tak lagi bertitit.

Kelamin-kelamin perempuan jadi sasaran halilintar-halilintar yang jalang. Yang haus akan persetubuhan. Halilintar-halilintar menyambar-nyambar.
Kelamin-kelamin perempuan dilumat halilintar-halilintar jalang. Tidak tewas seketika. Tidak juga terluka. Hanya layu. Serupa kuyu. Menggelambir. Dan berangsur-angsur mengkerut. Keriput. Lalu menyublim dari masa. Menjadi udara. Tak kasat mata.

Halilintar-halilintar pergi.
Satu per satu laki-laki terbangun dari mati suri.
Dalam keadaan tenang.
Telanjang.
Dan perasaan risih di selangkangan.

_________________

*) Meminjam separuh judul cerpen Seno Gumira Ajidarma — Jakarta, Suatu Ketika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: