Antara Monolog dan Dialog

Hidup ini memang lebih banyak menawarkan segala yang sebenarnya tidak diinginkan ketimbang apa-apa yang sebenarnya sungguh-sungguh diharapkan ya, Frau? Iya. Tetapi coba kau lihat orang-orang usang yang menggelayut di jalanan dan selalu mengorek apa-apa yang bisa difungsikan untuk mengisi perut mereka yang busung, yang lapar, yang udelnya bodong itu? Ah, tolong jangan meracau. Cermin di hadapku hampir karatan. Andai saja aku punya uang berton-ton banyaknya, ruangan ini sudah pasti berlantai cermin, berdinding cermin, beratap cermin. Untuk beli makan saja kau ngutang. Sudah, berhentilah berandai-andai. Ini negara memang neraka. Siapa bilang neraka? Buktinya tangan-tangan neraka melukai manusia-manusia yang selalu merasa kurang dan selalu kurang pada apa-apa. Pada segala. Tetapi perpecahan yang terjadi bukan disebabkan oleh tangan-tangan itu. Lalu? Oleh pendeta. Bukan. Oleh paus. Apa bedanya? Beda. Bodoh. Kau ingat memoriam Vatikan yang membuat beranak-anak, berpecah namun tak retak? Tapi rantas. Benar. Eh, kau ingat paus perempuan itu? Dia dibuang di mana jadinya? Di Lubang Buaya? Bukan. Di Tarantina. Di dekat Koro-Koro. Planetariasariumandum. Dia gila. Pantas saja. Bagaimana dengan Anglio? Anglio apa? Angola. Hah, Angola? Anglikan. Bercerai, bukan? Itulah. Apa urusannya denganmu? Tidak ada. Pemulung sampah yang bunting itu meraung-raung, menyeret-nyeret kakinya yang terseok-seok dan menyisakan darah haid, yang merah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: