Sauerei.

Ehem. Ehem (lagi). Ehem (Hey, cukup! Ehem-nya tiga kali saja, jangan lebih!). Ehem, okay. Bonus satu.

Jadi begini, saya memang sengaja memberi judul tulisan ini seperti yang di atas, “Sauerei” (baca: Sauwerai – karena “ei” merupakan Diphtong dan cara membacanya laiknya “ai”). Berasal dari bahasa Jerman, yang bila dicari, maka akan ditemukan “yang berserak, yang carut marut, yang tidak teratur, berantakan, (dan semacamnya)” sebagai padanannya dalam Bahasa Indonesia. Tadinya sih saya mau menuliskan “Schweinerei”, sama saja dengan “Sauerei”. Tapi saya lebih memilih “Sauerei”, karena dalam kata “Schweinerei” terdapat unsur kata “Schwein” yang berarti Babi. Dan saya kurang begitu menyukai itu. Ya meskipun di Jerman sendiri diyakini bahwa babi itu merupakan lambang keberuntungan, saya tetap lebih menyukai anjing, yang mana saya sendiri lebih sering menyebutnya asu (anjing, dalam bahasa Jawa). Jadi, misalkan ada kata “Hunderei” (Hund: anjing, dalam bahasa Jerman), maka saya pasti akan memilih kata tersebut sebagai judul dari tulisan ini. Sayangnya, tak ada. Ehem. Bukan, saya bukannya tak menyukai babi. Hanya saja, saya lebih menyukai asu, dan lalu mengasu-asukan asu jika kalender menunjuk angka sebelas (itu ritual yang tak boleh ditinggalkan – sudah, lebih baik jangan tanya kenapa). Kembali lagi ke babi. Bukan, saya bukan pengikut gerakan anti babi. Saya malah pernah dengan sengaja menyantap daging babi ketika saya pulang sekolah dari Volkshochschule Ingolstadt, tempat saya mengikuti kursus bahasa selama saya di Jerman. Rasanya memang enak. Enak sekali malah. Selain itu, murah. Haha. Dan kalau boleh curhat sedikit, kebiasaan lucu saya yakni selalu mencari kesempatan diam-diam menyicip olahan daging babi di keluarga tempat saya tinggal di sana. Karena si empunya tahu kalau (dalam kolom agama yang tertera di KTP saya itu) saya seharusnya tidak menyantap babi. Selalu demikian: diam-diam. Dan memang saya lihai: si empunya, namanya Christine, belum pernah memergoki saya (atau mungkin dia sebenarnya mengetahuinya tapi lebih memilih diam dan membiarkan saya meneruskan kebusukan saya itu, haha, ah apapun). Ya, meskipun saya tahu kalau daging babi itu merupakan daging yang (seharusnya) masuk dalam kategori daging tak layak konsumsi sebab begitu banyak bakteri yang terdapat di dalamnya. Dua diantaranya yakni Cacing Taenia Solium (larva yang berbentuk gelembung pada daging babi atau berbentuk butiran-butiran telur pada usus babi – yang mana akan ikut tercerna oleh manusia jika cara memasak dagingnya kurang baik – dan bisa mengakibatkan histeria atau perasaan cemas – atau bahkan bisa mematikan jika larva tersebut sudah menyebar ke seluruh tubuh), lalu Cacing Trichinila Spiralis (cacing ini berbentuk gelembung-gelembung lembut – lagi-lagi jika terkonsumsi oleh manusia maka cacing tersebut akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa, memperlambat gerak tubuh, menghambat pernafasan atau bahkan mengantarkan pada kematian), dan masih banyak cacing-cacing lainnya yang bersarang di tubuh seekor babi. Oh, mein Gott! Tapi ya tetap saja saya nekat melanjutkan hobi diam-diam saya itu. Toh buktinya orang-orang yang mengkonsumsi daging babi (terlihat) baik-baik saja. Oh iya, kembali lagi ke “Sauerei”. Jadi, sesuai dengan judulnya, saya di sini hanya ingin menulis yang berantakan yang saya dapatkan hari ini. Jadi misal nanti ceritanya ngalor ngidul ya kudu dimaklumi, kan namanya juga “Sauerei”. Ehem.

Yang pertama, tentang kecerdasan. Ehem. Jadi, tadi di kelas Linguistik, teks tentang kecerdasan yang berjudul “Weibliches Chromosom” a.k.a Chromosom X, dibahas lagi untuk ketiga kalinya. Karena memang bahasan kita baru sampai pada Textsemantik (tahapan dalam Semantik setelah Wort- dan Satzsemantik). Semester ini memang gila-gilaan. Bayangkan saja, Syntaksis, Semantik, Pragmatik, lalu Textlinguistik dikemas dalam satu semester yang hanya DUA SKS. Gila! Sumpah gila! Hahaha. Jadi, dalam teks yang ada pada saya, dikatakan bahwa yang mewariskan kecerdasan atau “Intelligenz” itu adalah Chromosom X, bukan Chromosom Y. Seorang ahli genetika dari Australia, Gillian Turner, telah melakukan riset tersebut pada tahun 1996 dengan hasil seperti yang sudah saya katakan sebelumnya. Dan saya baru mengetahui hal tersebut usai Bu Mega, dosen linguistik saya, membagikan lembar tersebut pada saya. Dan saya yakin, tak banyak orang yang mengetahui hal tersebut. Malah lebih dari sepertiga dari jumlah masyarakat kita cenderung masih percaya pada mitos, bahwa seorang anak mewarisi kecerdasan dari seorang ayah, lalu mewarisi kecantikan dari seorang ibu. Okay, berarti mitos tersebut sudah mati pada tahun 1996. Dan hasil riset ini juga nantinya akan mati semisal ada riset yang menunjukkan hasil yang berbeda. Tapi seperti yang diketahui, riset ini masih berlaku karena sampai saat ini belum ada hasil riset yang lebih baru terkait Chromosom X (yang mewariskan kecerdasan). Dan lagi, yang perlu diketahui adalah bahwa kecerdasan seorang anak itu bisa dilihat sejak dia kecil hingga masa puberitas. Di situlah kita lihat kecerdasan maksimal. Kedepannya, tinggal diasah saja. Lalu misalkan ada seorang anak yang pada masa kecil hingga puberitasnya cerdas, tapi di usia selanjutnya malah ditemukan bahwa kecerdasannya menurun, berarti dia kurang mengasah kecerdasannya, atau mungkin lingkunganlah yang sudah pasti menjadi faktor utamanya. Sungguh, saya ucapkan selamat pada setiap wanita! Semoga anak-anak kalian nanti terlahir cerdas seperti kalian! Dan, oh ya, dalam teks tersebut, Turner menyarankan agar para lelaki meningkatkan kecerdasannya. Karena, Chromosom Y itu mewariskan kecantikan. Kalau mau protes, jangan protes sama saya, sama si Turner saja. Jadi, para wanita yang sudah menjadi ibu dari seorang atau beberapa anak, kalian boleh saja menyanggah jika suatu ketika mendengar semacam “Eh itu lho, anaknya Pak Paijo, pinter!” (seharusnya kan “Eh itu lho, anaknya bu Saripah, pinter!”). Tapi ya sudah, ngalah buat suami kan juga tak apa. Itung-itung sodakoh. Faaaaakkkk! Haha!

Masih terkait soal kecerdasan, sebaiknya memang dibiasakan mengasahnya sejak dini. Lihat saja, banyak sekali orang-orang di sekitar —yang baru memasuki masa nenek-nenek atau kakek-kakek muda— yang pendengarannya berkurang. Kenapa belum tua bangka sudah tak lagi mendengar dengan baik? Ya karena jarang diajak bicara. Yang terjadi kemudian adalah pikun. Kenapa? Ya karena otaknya jarang difungsikan. Bukankah orang tua seumuran nenek kakek itu seharusnya tetap diajak bicara? Dengan tema yang tentunya berbeda dari tema yang dibicarakan oleh anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Tema terkait waktu luang, liburan, atau mungkin tentang agama. Bukankan itu merupakan tema yang pantas bagi seumuran mereka? Tengok saja kehidupan tua si Nietzsche atau si Goethe, bukankah mereka yang tadinya mengabaikan Tuhan lalu memercayainya? Karena pada akhirnya nanti kita akan kembali. Kembali pada sesuatu yang maha besar yang entah apa itu sebenarnya. Di situ kita akan menyadari bahwa selama hidup kita adalah sendiri. Tak ada manusia yang memiliki atas manusia lain. Ah, bicara apa ya saya ini? Saya sendiri tak tahu. Ya, seperti itulah yang saya tangkap dari orang-orang, yang entah apakah mereka sendiri juga memahaminya. Saya tak tahu. Embuh. Haha.

Lalu yang kedua, babagan uang. Lebih tepatnya uang kos. Jadi, sepulangnya saya dari Jerman, di Jogja saya menempati kos lama saya lagi. Kebetulan ada kamar kosong. Urusan boking-memboking sudah beres semuanya pada bulan Juli. Sedang saya baru pulang Agustus. Dan baru menempati kos pada bulan September. Nah, memang peraturan pembayaran uang kos di tempat saya itu kan ketika masuk pertama langsung wajib membayar sejumlah tiga bulan seklaligus. Okay, sudah saya lakukan. Berarti untuk September, Oktober, dan November sudah beres. Tetapi, tetapi ya tetapi, tadi pagi itu si penjaga kos saya, namanya Mbok Germi (kadang-kadang dengan tiba-tiba menjadi Germi Chocolatos – ups, maaf Mbok), nah, dia mendatangi kamar saya dan menyampaikan pesan dari si pemilik kos (namanya Pak Joko, yang mana tinggal di Jakarta) bahwa saya dihitung masuk mulai Agustus. Dan saya diwajibkan membayar uang kos untuk bulan November tentunya. Jancuk, mata duitan, begitu umpat saya dalam hati. Saya hanya tersenyum dan mengiyakan pesan Mbok Germi. Memang terkadang saya itu menjadi terlalu pengecut. Ya, saya sedang malas adu mulut juga. Lagipula, saya juga sudah pewe nge-kos di situ sebab kamar mandinya bersih serta sejagat alasan lainnya yang menurut saya tak perlu dibeberkan di sini. Jadi, ya sudah, saya ngalahi membayar uang sewa bulan ini saja. Lemah-lemah teles, Gusti Allah sing mbales. Versi bahasa gaulnya: Asah-asah gelas, Tuhan nanti yang balas (diikuti serbuan anak muda yang meneriakkan #EEEAAAAAAA).

Njuk, opo ya? Oh iya, sore ini tadi saya mengikuti Aerobik lagi di salah satu sanggar senam yang menjadi langganan saya. Bukan, bukannya saya terobsesi menurunkan berat badan, melainkan saya ingin tetap sehat. Ya memang ada niat menurunkan berat badan sih, tapi tak yang begitu menggebu. Karena memang badan saya dari kelas tiga SD dulu selalu seperti ini, gendut, agak kurusan, gendut lagi, agak kurusan lagi, gendut lagi, agak kurusan lagi, gendut lagi dan seterusnya. Tapi setiap kali melihat foto di undangan nikah, saya kepingin secara kilat menjadi kurus, eh lebih tepatnya langsing. Dan saya menyadari bahwa itu adalah hal yang mustahil. Selalu ada tahapan dan proses bukan? Baiklah, semoga suatu saat nanti saya bisa menjadi seorang yang, ehem, langsing. Maka dari itu, saya kudu mengubah kebiasaan-kebiasaan saya. Karena diet makanan sangatlah tak cocok bagi saya. Saya kan punya hobi makan. Hobi ini, awal mulanya, ehem, datang dari asumsi saya ketika saya masih duduk di bangku kelas tiga SD: Kalau tidak makan, nanti bisa mati. Nah, dari situlah saya meletakkan kegiatan makan sebagai hobi (dan kebutuhan primer paling utama haha). Jadi ya, berhubung demikian, saya melakukuan diet yang lain saja, diet kebiasaan buruk dan sejenisnya. Dan menurut saya memang pada dasarnya diet kebiasaan itulah yang paling penting. Dan merupakan diet yang berhasil jika bisa mematahkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang menjadi faktor pendukung kegemukan. Salah satu contoh terkecilnya adalah mematikan TV dan lebih memilih mengisi waktu dengan aktivitas-aktivitas lain yang lebih bermanfaat, misal membaca buku, mengerjakan tugas kampus mungkin, atau berolahraga. Dengan demikian, peluang ngemil di depan TV jika digambarkan akan menunjukkan grafik menurun, bukan begitu? Oleh sebab itu, saya berolahraga saja. Sekali lagi #EEEEAAAAAA.

Sebagai pungkasan, saya hanya ingin sekedar berbagi bacaan. Saya yang kebetulan saat ini sedang membaca Eleven Minutes, salah satu karya Paulo Coelho. Terbitan tahun dua ribu tujuh kemarin, tapi saya baru membacanya sekarang. Banyak sekali yang saya dapatkan di sini. Tapi semisal saya mau menceritakan, mungkin baru akan selesai besok pagi, sedang saya sepertinya sudah lelah dan ingin segera memejamkan mata dan bermimpi lalu bangun besok pagi dalam perasaan yang gembira. Semoga. Ehem. Jadi, dalam novel ini, ada beberapa bagian yang saya suka.

“…Suatu hari nanti, entah kapan, aku akan membeli tiket pulang, dan aku bisa kembali ke Brazil, menikah dengan pemilik toko kain itu, dan mendengarkan komentar-komentar usil teman-teman yang tidak pernah berani mengambil risiko, tapi selalu saja mengomentari kegagalan-kegagalan orang lain…”

“…Seorang wanita yang sedang mengajak anjing kecilnya berjalan-jalan memberitahunya bahwa para demonstran itu orang-orang Kurdi. Maria sama sekali tidak pura-pura mengerti jawaban itu supaya dianggap lebih berbudaya dan lebih cerdas; dia malah bertanya, ‘Dari mana asal orang-orang Kurdi itu?’. Dan dia terkejut karena ternyata wanita itu juga tidak tahu. Memang seperti itulah dunia ini: orang-orang bicara seolah-olah mereka tahu segala-galanya, tapi kalau kita berani bertanya, mereka sebenarnya tidak tahu juga. Maria masuk ke sebuah kafe Internet dan mendapati bahwa orang-orang Kurdi ternyata berasal dari Kurdistan, negeri yang non-eksis, dan sekarang terbagi antara Turki dan Irak…”

Satu lagi: “…#Karena lawan bicaraku seorang intelektual, aku akan mengutip kata-kata Plato. Menurut Plato, pada awal penciptaan dahulu, lelaki dan perempuan tidak seperti yang kita lihat sekarang ini; ketika itu hanya ada satu jenis manusia yang tubuhnya agak pendek, dengan batang tubuh dan leher, namun kepalanya memiliki dua wajah yang memandang ke dua arah berbeda. Bentuknya mirip dua makhluk yang punggungnya saling direkatkan–keduanya memiliki alat kelamin sendiri-sendiri, punya empat kaki dan empat lengan. #Tapi para dewa Yunani menjadi cemburu karena makhluk tersebut punya empat lengan yang memungkinkan mereka bekerja lebih keras, dan punya dua wajah yang membuat mereka selalu waspada dan tak mungkin lengah; dan keempat kakinya memungkinkan dia berdiri atau menempuh perjalanan panjang tanpa merasa lelah. Dan yang lebih membahayakan adalah fakta bahwa makhluk itu memiliki dua organ kelamin, sehingga dia tak memerlukan pasangan untuk berproduksi. #Zeus, dewa penguasa Olympus, berkata: ‘Aku punya rencana untuk membuat makhluk manusia itu kehilangan sebagian kekuatan mereka’. #Dan dengan cambukan kilat, dipotongnya makhluk itu menjadi dua bagian, maka terciptalah lelaki dan perempuan. Pemisahan mereka telah meningkatkan penghuni dunia, namun pada saat yang sama juga menyebabkan manusia kacau dan lemah, karena mereka harus mencari separuh dirinya yang hilang, dan memeluknya lagi—dan setiap kali mereka memeluk separuh bagiannya yang hilang itu, kekuatan mereka akan pulih lagi, begitu pula kemampuan mereka untuk mencegah terjadinya pengkhianatan serta menjaga stamina untuk menempuh perjalanan panjang dan menjalani kerja keras…”

|| Masih Hari Rabu, hari dimana saya menyicip Mieayam Ceker untuk kali pertama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: