TALI

Saya tak lagi terobsesi dengan panjang seutas tali yang masih berada dalam genggaman tangan saya ini. Bukannya saya jenuh untuk selalu menghitung panjang yang selalu saja bertambah setiap kali musim spora datang, melainkan saya menyadari bahwa ini tali sudah terlalu tua dan mendekati rapuh. Semakin saya genggam, semakin panjang, dan semakin rapuh.

Saya tahu, ini tali memang mahal sekali nilainya. Mungkin bisa dikatakan sebanding dengan harga jual Burj Al Arab yang berada di Dubai. Mungkin jika dirupiahkan, saya membutuhkan seluruh luas kota Jogja untuk dijadikan tempat penyimpanan. Atau mungkin jika saya tukar dengan tiket pesawat terbang di seluruh dunia, saya akan mendapatkan berpuluh-puluh tiket setiap harinya dalam jangka waktu katakanlah tujuh puluh tahun lamanya. Tapi, saya juga tak lagi terobsesi dengan tali yang mahal, yang mewah.

Ah, tali. Semisal malam ini kamu mau berbincang dengan saya dan ditemani secangkir kopi, pastilah saya bisa melepaskanmu dari genggaman dan meletakkanmu mungkin di kotak kenangan.

Wettstetten,
efek kopi rasa stroberi dan malam yang menjadi pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: