KITA, MAGNET-MAGNET BATANG

Kita adalah magnet-magnet batang dalam krat besar yang diangkut oleh mobil pick up tua berkarat dari pusat kota Salatiga menuju Yogyakarta. Dan tentu saja, kita diajak menerobos jalan tikus yang sebenarnya sudah tak layak lagi untuk dilewati: berlubang-lubang, berdebu-debu, dan berair-air karena hujan. Ya, karena pak supir memang tak memiliki surat ijin mengemudi yang serupa kartu kredit itu.

Satu dua desa terlewati sudah. Dan mobil terus melaju. Dan lubang-lubang jalan semakin ke sana semakin berserakan dan besar-besar dan mengerikan. Dan kita semakin berdesing-berdesang, berdentum-berdentam, menjerit-jerit hebat, dan memekakkan telinga rumput-rumput sepanjang jalan yang tak tahu apa-apa. Dan kita tertawa. Menertawakan dan ditertawakan antar dan oleh sesama.

Itulah kita: MAGNET-MAGNET BATANG, dalam jumlah yang banyak, dalam krat yang besar, dan mobil pick up tua berkarat yang dengan sengaja melewati jalanan panjang dan berlubang-lubang.

Selama perjalanan, kita bisa tarik-menarik atau tolak-menolak dengan siapa saja yang kita mau hanya dengan mendekati kutubnya: sama atau beda. Kita bisa dengan sesuka hati merapat sana-sini dan berganti-ganti setelah mungkin bosan atau dicampakkan. Semisal pada jam ini kita adalah kawan, bisa jadi nanti satu atau dua jam lagi kita jadi lawan. Dan tentunya tak menutup kemungkinan bahwa lawan pun bisa jadi kawan. Ya, hanya dengan lipstik motif bunga-bunga dan senyum lebar dan dengan menutupi atau bahkan menghilangkan segala ejekan, caci maki, gerundelan, fitnahan dan pisuhan yang pernah dibeber-beberkan. Atau barangkali senasib dalam hal campak, mencampakkan, dan dicampakkan. Dan itulah realita yang ada pada kita: Magnet-Magnet Batang. Dan tertawa, menertawakan, dan ditertawakan adalah hal yang biasa saja. Dan menggunjing atau menyindir mereka yang tak kita sukai adalah juga biasa saja. Kita tak perlu resah atau merasa berdosa akan itu semua. Dan tak perlu mengutuki diri atau mencaci maki mereka yang datang dan pergi. Biarkan saja datang dan pergi dan berganti-ganti. Masing-masing kita pun demikian. Datang, pergi, dan berganti-ganti. Selanjutnya? Mungkin masih ada basa-basi, mungkin juga jadi lupa sama sekali. Cukup sadis memang. Bukan apa-apa, toh kita sendiri yang membuatnya sedemikian rupa.

Itulah kita: MAGNET-MAGNET BATANG, dalam jumlah yang banyak, dalam krat yang besar, dan mobil pick up tua berkarat yang dengan sengaja melewati jalanan panjang dan berlubang-lubang.

Kita adalah objek yang masing-masing memiliki medan magnet. Kita bebas mempengaruhi apa dan yang manapun tergantung intensitas yang kita punya, selagi kita belum terbakar, terbanting, terpukul berulang kali, atau bahkan terjatuh dalam kuasa gelap solenoida.

Itulah kita: MAGNET-MAGNET BATANG, dalam jumlah yang banyak, dalam krat yang besar, dan mobil pick up tua berkarat yang dengan sengaja melewati jalanan panjang dan berlubang-lubang.

Itulah kita: MAGNET-MAGNET BATANG. Kawan bisa jadi lawan, lawan bisa jadi kawan. That’s all. Jadi, kita tak perlu menjadi jalang untuk memikirkan kawan dan lawan yang tak menentu dan seringkali memuai karena dipanaskan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: