angin dan ilalang (yang entah sampai kapan)

“Angin,”
“Ya? Ada apakah ilalangku?”
“Sampai kapan kau akan menerbangkanku di udara sesukamu?”
“Sampai kapan pun aku mau.”
“Lalu jika nanti kau sudah tak mau?”
“Sudah tentu aku akan mendaratkanmu.”
“Kalau boleh aku tahu, dimanakah itu?”
“Entah, aku belum tahu. Tergantung nanti dimana dan kapan kau dan aku melayang-layang hingga aku dihinggapi rasa untuk menyudahimu.”
“Ah, begitu ya? Itu tidak adil namanya.”
“Lalu, kau maunya bagaimana?”
“Paling tidak, kau tak boleh semena-mena seperti itu.”
“Hahaha. Kau percaya? Ya tentunya aku tak akan memperlakukanmu sesukaku, ilalangku sayang. Hahaha. Eh, tapi mungkin bisa saja itu terjadi. Hahaha.”
“Hentikan leluconmu, anginku. Itu tak lucu.”
“Ah, maaf. Iya, baiklah, ilalangku.”
………………………………
“Angin,”
“Ya?”
“Boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh saja, sayang.”
“Apa pun itu?”
“Ya. Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?”
“Tentang debu.”
“Debu?”
“Ya, tentang debu. Kau keberatan?”
“Ah, tidak. Tidak keberatan. Memang ada apa dengan debu?”
“Kau pernah dengar cerita tentang debu yang begitu mendambamu?”
“Oh, itu. Iya, aku pernah mendengarnya. Ah, tapi aku tak mempedulikannya.”
“Kenapa?”
“Itu tak penting menurutku.”
“Oleh sebab itu kau tak mempedulikannya?”
“Y-Ya.”
“Bukankankah dia cantik seperti Tuhanku? Kenapa kau tak mau?”
“Karena aku tak ada rasa untuknya.”
“Sama sekali tak ada?”
“Mmm.”
“Aku tak percaya. Siapa dia?”
“Siapa bagaimana maksudnya?”
“Apa perlu aku bertanya secara heuristik?”
“Mmm. Dia bagian dari masa laluku.”
“Lalu kenapa tadi kau bilang kau tak mempedulikannya?”
“Tak apa.”
“Kau tampak galau. Pasti ada suatu alasan hingga kau demikian. Maukah kau menceritakan itu padaku?”
“Untuk apa?”
“Ya, sekadar ingin tahu saja. Tapi kalau kau keberatan, ya, tak usah saja.”
“Baiklah. Tapi suatu hari nanti ya.”
“Kenapa harus suatu hari nanti? Kenapa tidak sekarang?”
“Mmm. Baiklah kalau kau maunya sekarang. Kau maunya aku cerita dari mana?”
“Dari awal.”
“Itu terlalu panjang, sayang.”
“Iya kah? Butuh waktu berapa hari untuk menceritakannya?”
“Berpuluh-puluh hari.”
“Terlalu lama. Lalu apakah kau tak bisa menyingkat ceritanya sehingga akan selesai dalam beberapa hari saja?”
“Tidak, sayangku. Hanya ada beberapa bagian yang dapat di-elips-kan.”
“Ah, baiklah, kalau begitu, ceritakanlah bagian akhirnya saja. Ceritakanlah dalam waktu beberapa detik saja.”
“Bagian akhir?”
“Ya, bagian akhirnya saja.”
“Kenapa kau tak memilih bagian awal atau bagian tengahnya? Atau mungkin bagian intinya?”
“Tidak. Aku mau tahu bagian akhirnya saja. Mulailah bercerita. Aku akan menjadi pendengar yang baik.”
“Baiklah. Jadi, beberapa tahun silam, aku menerbangkan debu sesukaku, ya, seperti aku menerbangkanmu macam ini waktu. Tapi di tengah perjalanan, hujan turun begitu lebat. Kami, aku dan dia maksudnya, memutuskan untuk berteduh di sebuah gubug tua di Neubau Strasse yang langit-langitnya menghitam karena jelaga. Dan tahukah kau, ilalangku, udara benar-benar tak bersahabat waktu itu. Dingin sekali. Dingin yang membekukan segala. Ya, hingga debu menyerpih. Debu menyerpih begitu lirih. Aku tak kuasa melihatnya. Lalu tak lama kemudian, langit-langit menawarkan persinggahan sementara untuknya. Dan, ya, akhirnya aku memberikan debu pada langit-langit itu, meski dengan berat hati karena aku sebenarnya tak merelakan hal itu. Dan aku pikir itu memang yang terbaik untuk debu waktu itu. Tapi yang terjadi kemudian, debu menyuruhku melanjutkan perjalanan, ya, karena aku tak bisa seperti langit-langit itu, yang mampu menghangatkannya tatkala hujan turun dengan lebatnya. Ah, asu. Langit-langit itu telah mengambil debu dariku. Ya, akhirnya, dengan berat hati aku pergi, meninggalkan mereka berdua yang sedang bercengkerama saling berbagi cerita dan seolah di situ aku tak ada. Ya, aku melanjutkan perjalanan yang masih panjang dengan tanpa debu tentunya. Aku melanjutkan perjalanan dengan menerbangkan segala yang bisa kuterbangkan. Hingga akhirnya di suatu persimpangan jalan aku bertemu denganmu. Dan seperti yang kau tahu, aku lalu menerbangkanmu.”
“Ah, begitu rupanya.”
“Ya, begitulah singkat cerita. Masa lalu yang cukup biru dan cukup membuatku mengasu-asukan asu. Ah, maaf, bukan maksudku,”
“Iya, aku tahu. Lalu apa kabarnya debu, sayang?”
“Ah, aku kurang tahu. Kenapa kau menanyakan itu?”
“Ya, siapa tahu ada temanmu yang menyampaikan kabar debu padamu.”
“Hahaha kau lucu, ilalangku.”
“Lucu darimananya?”
“Lucu aja, hahaha.”
“Hahaha. Lalu, semisal nanti, semisal, di persimpangan jalan yang akan kita temui dalam jarak beberapa kilometer di depan, kita menjumpai debu berdiri menanti di sana, kau mau apa? Apakah kau akan menerbangkannya? Atau kau akan berdiam sejenak memandanginya, tersenyum, lalu melewatinya begitu saja? Ataukah kau akan membawa terbang bersama kita?”
“Bolehkah aku tak menjawab?”
“Mmm. Boleh saja. Kalau kau memang tak mau menjawab, itu tak apa. Aku tak keberatan. Ya, aku bisa memahaminya.”
“Thanks. Hahaha. Imajinasimu lucu.”
“Hahaha. Ya sudah, lupakan itu. Berapa lama lagi kita akan sampai di Wettstetten, anginku?”
“Tujuh jam lagi. Tidurlah kalau kau mengantuk. Nanti kubangunkan kalau sudah sampai.”
“Hoaaahm. Kau tahu aja kalau aku mengantuk. Ya sudah, nanti bangunkan aku ya, aku mau tidur dulu. Singkat ceritamu cukup me-nina-bobo-kan-ku.”
“Gute Nacht, Schatzi. Schlaf gut und traeum suess!”
“Gute Nacht. Das ist aber sehr lieb von dir.”
……………………………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: