surrender

Sudah beberapa hari ini saya dirasuki oleh hantu kesetanan yang berkedok kejenuhan. Berulang kali ia membujuk, merayu, dan menghasut agar saya benar-benar masuk ke dalam kuasa gelapnya yang cantik namun mematikan. Saya sudah berusaha mengelak dengan sekuat tenaga, meronta, mencakar-cakar jubah usangnya dan memukuli kepalanya agar ia pergi menjauh dari saya. Jauh sejauh-jauhnya dari hidup saya. Tapi apa mau dikata, pada kenyataannya ia sama sekali tak merasakan apa-apa dari segala macam bentuk perlawanan saya. Ia terlalu bebal dan sepertinya memiliki lapisan serupa kulit badak kerbau: kasar, tebal, dan berlipat-lipat.

Saya mengerahkan seluruh energi positif yang saya miliki agar selalu dalam keadaan terjaga. Namun ia terlalu kuat. Dan segala macam usaha saya berujung pada kesia-siaan. Tai! Sial! Dan hari ini, ketika saya sejenak roboh dari kemengadaan, ia berhasil menghipnotis saya dan menempatkan saya pada inti jiwanya yang berupa metal padat. Titik jenuh. Ya, titik jenuh. Titik yang merampas seluruh energi saya, baik itu positif maupun negatif, yang menyeret saya pada keadaan nol energi. Titik yang membuat saya lebih bebal daripadanya. Titik pembodohan yang bisu, yang tolol.

Asu! Jancuk! Saya mengutukinya dengan mantra-mantra kekinian, sesaat setelah ia dengan seenaknya menelanjangi dan memasuki ruang-ruang hati dan pikiran saya. Hantu sialan! Nggak punya sopan santun! Nggak kenal tata krama! Hampir saja saya mati! Asu! Jancuk!

Dan dalam keadaan masih di alam bawah sadar, tubuh saya secara perlahan-lahan menyerap sisa-sisa energi yang tercecer di sekitar. Saya tak lagi merasa kaku atau sejenis kosong. Tapi kepala saya masih terasa berat, penat, seolah-olah hantu sialan itu masih menggelayut pada ranting otak saya yang entah sebelah mana. Dan itu membuat saya berdiri cukup lama pada pintu yang mempertemukan imajinasi dan kenyataan. Ah, kali ini otak saya bekerja dengan sangat lambat. Tujuh belas kali lebih lambat dari gerak tanaman yang menuju kepada kematian. Lalu seketika saya berhasil mendobrak pintu kesadaran hingga terbuka lebar-lebar, saya menemukan diri saya masih berada dalam kuasa gelap hantu kejenuhan. Mengapung pada metal cair yang serupa adonan kue panggang.

Baiklah, kali ini saya mengakui bahwa saya terlalu lemah. Saya kalah. Tetapi saya belum menyerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: