memamah biak. biak apa. biakso.
memamah biak. biak apa. biaksa.
memamah biak. biak apa. biaklah.
memamah biak. biak apa. biakdab.
memamah biak. biak apa. biakhaya.
memamah biak. biak apa. biakjigur.
memamah biak. biak apa. biakjindul.
memamah biak. biak apa. biakjingan.

Sesungguh cinta kasih yang terjalin antara dua manusia yang berlawan jenis kelamin, ia —cinta kasih— tak pernah abadi. Dan tak akan pernah abadi. Ia bisa dipastikan suatu saat yang entah kapan itu nanti mati. Bisa jadi dengan luka. Bisa jadi tanpa luka.

Ia bisa mati dengan sendirinya. Lupa menjalankan ritual fotosintesa. Atau mengalami kegagalan dalam bermetamorfosa.

Ia bisa juga mati lantaran dipaksa oleh sang maha. Diberhentikan dari masa jabatannya. Atau sengaja diasingkan di atas senja.

Lalu jika cinta kasih itu telah mati, maka dua manusia ini tak akan lagi berada dalam satu lintasan yang sama diameternya. Bisa jadi salah satu dari mereka tetap diam di lintasan, sedangkan yang satunya beralih ke lintasan yang diameternya lebih kecil atau lebih besar. Atau bisa jadi salah satu dari mereka beralih ke lintasan yang diameternya lebih kecil, sedangkan yang satunya beralih ke lintasan yang diameternya lebih besar. Atau bisa jadi keduanya sama-sama beralih ke lintasan yang diameternya lebih kecil atau yang lebih besar namun dalam ruang dan waktu yang jalannya tak bersamaan. Sehingga keduanya tak lagi bertemu. Tak lagi berdampingan. Tak lagi berhadapan. Tak lagi bersinggungan.

Maka jadi jika kemungkinan-kemungkinan kematian cinta kasih itu menyembul ke permukaan dan melenyapkan lintasan, janganlah kau berlama-lama menyesali kematiannya. Menyesallah sebab kau telah mengagung-agungkannya melebihi segala.

Maka jadi larunglah sedihmu dan lalu kemasi barang-barangmu. Pergilah kemanapun kau mau. Dan jangan lupa pasang senyummu. Dan ada satu hal yang aku pesankan: Pikirkanlah benar-benar, sebelum memutuskan kembali bergelut dengan lintasan.

ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego ego

Adalah tradisi masyarakat lama untuk mencari kutu —beserta telur dan anak-anaknya— yang bersarang di kepala dan rambut seseorang, entah laki-laki, entah perempuan. Kegiatan petan ini biasanya dilakukan oleh para ibu pada waktu senggang — atau bahkan waktu yang sengaja disenggang-senggangkan. Di hari yang terang. Di teras depan atau samping rumah atau mungkin di pelataran. Minimal harus terdiri dari dua orang: yang me-metan dan yang di-petan. Lalu posisi duduk lazimnya berundak-undak, agar si pemetan bisa lebih berkuasa atas kepala yang dipetan. Terasa lucu adalah ketika kontestan per-petan-an berjumlah lebih dari tiga orang. Maka mereka akan membentuk formasi serupa kereta mainan. Sepur, begitu para lidah jawa mengalihbahasakan kereta. Sepur mainan. Sepur-sepuran.

Kutu rambut memang serupa setan. Mengerikan. Ia beruas-ruas dan gelap. Segelap warna rambut seseorang. Dan lebih sering dijumpai pada perempuan. Sebab rambut perempuan itu biasanya panjang. Sehingga memudahkan para kutu untuk melancarkan aksinya. Beranak-pinak. Menghisap darah. Seperti drakula. Ehem. Drakula serangga.

Sewaktu usiaku masih dikata kanak-kanak, kepalaku juga pernah beberapa kali dihuni oleh kutu sialan itu. Sama seperti anak-anak lain di daerahku. Tumonan. Begitu orang-orang menamainya. Sebab kutu disebut tumo dalam bahasa jawa. Kutuan. Tumonan. Rasanya sungguh gatal. Serupa ada neraka di kepala. Anehnya, semakin digaruk, semakin terasa gatal. Dan aku memiliki reflek garuk yang mengerikan. Dan garuk-garukan itu membuat ketagihan.

Kemudian adalah serupa petaka setiap kali mendengar teriakan ibu yang nyaring, memanggil untuk petan. Petan di halaman depan. Disaksikan orang-orang yang lewat. Dan sesekali mereka menyapa, untuk sekadar basa-basi. Tak jarang pula ada yang mengomentari tanpa permisi. Tapi apa boleh dikata, para dewasa memang terkadang —atau bahkan seringkali— tak pernah memperhitungkan perasaan anak-anak, sebelum bibir mereka benar-benar terbang kesana-kemari memproduksi serentetan kalimat-kalimat yang entah dengan atau tanpa sengaja mengena dan menyakitkan. Para dewasa memang seringkali payah dalam memperlakukan anak-anak. Entahlah. Mungkin pemahaman mereka mengenai bibir tak lebih luas dari fungsi mencibir. Atau mungkin mereka menganggap bahwa perasaan anak-anak selalu bisa dibeli dengan permen atau eskrim.

Dan setiap kali cibiran itu tertuju padaku, maka yang membayar adalah tindakan ibu yang —menurutku— lucu. Lucu dan agak menjijikkan lebih tepatnya. Ia, ibuku, pasti akan membuat suasana menjadi tegang ketika ia mendapati seekor tumo yang tengah berjalan di kepalaku, melewati helai rambut satu ke helai berikutnya. Aku dimintanya diam dan dilarang bergerak. Lalu seketika ia berhasil menjimpit sang tumo, maka ia tak segan-segan memasukkan tumo ke dalam mulutnya dan lalu menggigitnya hingga terdengar bunyi ‘klethusss’. Maka tamatlah riwayat sang tumo. Mampus ia dihimpit gigi. Kemudian ibu pasti akan meludah. Maka jadi jasad tumo melayang bersama ludah ibu.

Biarpun demikian, petan tetap saja selalu mengerikan. Sebab ia akan terus berjalan sampai ibuku merasa pantas untuk menyudahinya. Ya, jika ibu telah mendapat banyak tumo, banyak anak tumo — yang biasa disebut-sebut sebagai kor, dan juga banyak telur tumo atau yang sering disebut dengan liso — ia serupa mikro kapsul cod yang dengan erat melekat di batang rambut, yang tak bisa lepas dengan sendirinya kecuali diserut. Dalam sehari, tumo dapat menghasilkan sejumlah delapan telur. Dan telur-telur ini baru akan menetas setelah lebih kurang delapan hari. Pengecualian untuk kor dan liso, ibuku tak melumatnya. Ia cukup menggilas mereka dengan kedua kuku jempol tangannya. Sebab baginya, citarasa yang dihasilkan kor dan liso itu payah, tidak menggairahkan, tidak seperti yang dimiliki tumo.

Seiring melajunya zaman, tradisi petan mulai terkubur di bawah jembatan. Disayangkan, biarpun ia mengerikan.
Ah, apapun. Puja dewa petan!

________________
*jenis ikan air tawar

Kemarin — hampir tengah malam — saya dengan tanpa sengaja menyaksikan sebuah program di salah satu stasiun televisi swasta yang tengah mengulas adanya temuan baru dalam bidang kedokteran, yang sebenarnya sudah tak asing lagi, yakni terkait implan — ehem — implan g-spot. Dengan gamblang sang dokter berbayar itu menjelaskan segala hal mengenai implan, g-spot, dan implan g-spot itu sendiri. Lalu, seperti halnya dokter-dokter berbayar yang lain, ia berbicara seolah-olah paling tahu tentang g-spot.

Ia — sang dokter — mengatakan bahwa dengan meletak implan g-spot di dalam vagina, maka para perempuan akan lebih mudah mencapai kenikmatan dalam persetubuhan (seks, begitu orang biasa menamainya).

Sang dokter adalah berjenis kelamin laki-laki. Kenapa ia bisa — dengan yakin — meyakinkan pemirsa bahwa implan g-spot adalah sedemikian rupa luar bisa dalam membantu pencapaian kenikmatan persetubuhan? Apakah ia pernah meletak implan g-spot di dalam dirinya, sedang ia sendiri tak memiliki vagina? Lalu kenapa ia bisa menjamin sedemikian rupa? Oh la la! Begitulah para dokter berbayar. Mereka bukan lagi mengemban tanggung jawab sebagai seorang dokter, menyembuhkan pasiennya hingga benar-benar sembuh. Melainkan hanya menjual produk demi uang. Tak lebih. Lalu jika kemudian ada seorang pasien yang merasa mengalami kegagalan dalam persetubuhan dan lalu mecoba meletak implan g-spot dalam vaginanya, apakah kemudian sang dokter akan bertanggung jawab pada efek samping yang akan ditimbulkan? Misal saja implan pecah dan kemudian cairannya yang sudah tentu zat kimia berbahaya itu mengucur membasahi dinding vagina? Apakah sang dokter akan bertanggung jawab? Saya bisa tebak, pasti tidak. Mereka para dokter berbayar tak lagi peduli akan kemanusiaan.

_____________
G-spot itu sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan area paling sensitif dalam vagina, yang jika tersentuh maka akan didapati kenikmatan yang tiada tara. Katanya sih ia terletak di sekitar satu hingga tiga inci pada bagian atas dinding vagina. Dinamai G, sebab diambil dari nama seorang ahli kebidanan asal Jerman: Ernst Graefenberg. Graefenberg-spot. Maka jadilah G-spot.
_____________