Seharusnya hari ini adalah hari berbuka dari rangkaian sepuluh hari Waterfasting. Tapi saya sudah melanggarnya tiga hari yang lalu. Saya hanya sanggup berpuasa air mineral sampai hari ke tujuh. Ngahahaha. 

Bukan karena saya lapar. Bukan. Bukan juga karena tergoda aroma makanan. Bukan. Tubuh saya tak bisa di paksa. Meski pikiran saya menyerukan agar terus bertahan. Beberapa kali saya berjalan sempoyongan. Dan hanya bisa melihat gelap di sekitar. Maka kemudian saya sudahi saja dengan melahap makanan. Ngehehehehe. 

Yawis, mari kita madhyang lagi! 

Eeeeeeerrrrrrrrr! 

Yeaa! Hari ini saya kembali berenergi. 

Pagi tadi langit sangat cerah. Sayang jika saya hanya duduk manis di rumah. Maka kemudian saya putuskan untuk jalan-jalan. Saya kenakan kaus kaki dan sepatu hitam. Dadah dadah dengan suami tanpa cipika cipiki. Lalu mengunci rumah. Dan mulai jalan kaki. 

Biasanya jika sedang tidak puasa, saya jalan kaki tanpa henti selama lebih kurang satu jam. Itung-itung sebagai latihan jalan sebab saya kadang-kadang dituntut pekerjaan untuk jadi hiking guide. Tapi pagi tadi saya putuskan untuk jalan santai saja. Tanpa tempo. Tanpa menargetkan berapa kilo yang harus saya capai. Termasuk berapa lama saya harus jalan. Saya nikmati saja udara pagi yang segar. Memerhatikan lingkungan sekitar. Orang-orang dan kendaraan yang berlalu lalang di jalan aspal sidatan. 

Selepas melewati dua jembatan di jalan beraspal, saya kemudian menyeberang dan mengambil jalan kecil mengarah sawah. Angin semilir. Burung-burung kecil berlarian ke sana ke sini. Udara segar. Dan tentu terbebas dari asap kendaraan yang kini bagi saya memiliki bau tak enak yang sangat menyengat. 

Sesekali saya selfie. Juga menyapa para petani yang sedang mengerjakan petak sawahnya. Hamparan padi di kanan dan kiri. Dan ketika saya balikkan badan, gunung merapi tampak sangat jelas meski dari kejauhan. Begitu besar dan sangar. Beberapa kali saya membidikkan kamera. Bahkan saya rela mblusuk-mblusuk menyusuri galengan sawah. Demi mendapatkan gambar merapi yang wah. Alhasil sepatu saya sedikit agak basah. Sempat saya berhenti agak lama hanya untuk memandangi merapi. Lalu kembali menapakkan kaki sampai ke ujung jalan. Menapaki jalan aspal menuju rumah.

Yang saya lakukan kemudian? Mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk tiga hari. Mumpung panas ngenthang-ngenthang dan berangin. Jadi kan cucian cepat kering. Dan benar, tak sampai tiga jam sudah kering semua cucian saya. 

Saya sempatkan diri tidur siang selama satu jam. Lepas itu saya baru mandi. Segar sekali.

Saya tunggu suami pulang. Lalu kita berdua berkendara menuju ke rumah Mamak di Kricak. Bincang-bincang sebentar. Lalu kita lanjut ke kafe langganan. Njuk saya nulis ini. Mwehehe. 

Berat badan saya hari ini? Tujuh puluh tujuh koma lima. Ngahahaha! 

Keluhan? Eeerr, sejak semalam ketika saya beranjak tidur, saya mencium bau menyengat dari vagina saya. Sangat tajam. Terlebih ketika saya ngangkang dalam posisi duduk maupun rebahan. Meski kemudian saya ganti celana dalam, baunya tetap saja menyengat. Entah yang mencium hanya hidung saya saja, atau suami saya juga. Saya sengaja tak tanya ke dia. Biar kita bisa tetap tidur berdua. Hahahaha. Maka siang tadi saya cari-cari informasi mengenai hal itu. Dan, yak! Banyak sekali yang berbagi hal serupa. Bahwa bau tubuh orang-orang (yang berpuasa air saja) biasanya menyengat mulai hari ke empat atau ke lima. Dikatakan bahwa hal itu merupakan salah satu tanda bahwa tubuh sedang bekerja mengeluarkan racun-racun dari tubuh kita. 

Keluhan lainnya? Beberapa kali merasa kepala nggliyeng setiap kali berubah posisi dari duduk ke berdiri. Sehingga saya harus berhenti sejenak sebelum melangkah. Mungkin darah rendah kali ya. 

Keluhan yang lainnya lagi? Tak ada. 

Yawis, gitu aja untuk hari ini ya.

Daaaaa! 

Berat badan saya pagi tadi? Antara tujuh puluh delapan dan tujuh puluh delapan koma lima. Pas saya nimbang kali pertama, jarum merah timbangan menunjuk angka tujuh puluh delapan tepat. Selang beberapa menit saya nimbang lagi, eh nambah setengah kilo. Turun lagi setengah, naik lagi setengah, turun naik turun naik turun naik wis lah embuh sak karepe timbangane hkhkhk. 

Saya bangun sekitar jam delapan. Pipis. Minum air perasan jeruk lemon. Minum dua gelas air mineral. Duduk di pojokan. Cek ini itu. Lalu setelah suami bangun, kita berdua ngobrol santai, eh tapi lebih banyak eyel-eyelan. Adu mulut terhenti sebab ponakan yang paling kecil menelepon dan meminta diajak jalan-jalan ke mall. Saya dan suami mandi bergantian. Mengendarai motor berduaan menuju mall. Saya diturunkan di pinggir jalan sebab ia kudu menjembut eh menjemput dua ponakan. Saya jalan masuk ke mall, langsung cari air mineral botolan. Mencari tempat duduk untuk menunggu suami dan kedua bocah itu datang. Setibanya di mall, mereka langsung makan. Saya cuma ngeliatin aja dan sesekali menghirup aroma makanannya. Lapar? Enggak sih. Cuma agak sedikit tergoda untuk mencobanya. Kelihatannya enak. Hkhkhkhk. Saya tenggak saja air mineral. Hkhkhk. Duh. Kudu kuat iman. Cukup ngeliat orang makan, udah kenyang. Nggak papa. Daripada harus mengulang ini program puasa air mineral lagi dari awal. Bisa jadi ntar nggak kelar-kelar. Selesai makan, seperti biasa kita langsung menuju arena mainan. Wira-wiri sana-sini. Main ini main itu. Diakhiri dengan menukar poin yang terkumpul dengan beberapa hadiah-hadiah kecil. Lalu saya menunggui mereka bertiga makan jagung kukus yang dicampur dengan mentega, susu, dan keju. Lepas itu kita berpisah. Suami mengantar ponakan pulang. Sementara saya menuju pintu depan untuk menunggu taksi datang. Namun melihat gojek bersliweran, akhirnya saya putuskan untuk naik gojek saja sampai Jalan Kaliurang. Jadilah saya sekarang ngendon di kafe internet langganan, disusul suami saya kemudian, dan kita wifian sampai ini malam.

Keluhan? Tak ada. Cuma hari ini saya merasa kurang berenergi. Badan agak lemas lemas gimana gitu. Inginnya bermalas-malasan. Mungkin sebab tak begitu banyak minum air mineral. Lha ya gimana lagi ya. Saya tak merasa begitu haus akan air mineral. Minum sedikit aja udah merasa kenyang. Atau mungkin gegara hari ini saya pakai gymbag-nya Freeletics dari Jerman. Hkhkhkhk. Ngok!

Sekian cuitan waterfast hari ini dari saya. 

Sudah hari kelima. Yay! Syalalalala! 

Memasuki hari ke empat, berat badan saya sudah turun sebanyak empat koma lima kilogram. Akhirnya bisa menyentuh kepala tujuh. Ya meski masih di tujuh puluh sembilan. Yang penting tujuh. Babay daday kepala delapan. Weiss, nggaya tenan. Tau gitu saya melakukan ini program waterfasting dari dulu. Ini bodi pasti sudah langsing aduhai sekarang. Hahaha. Telat. Ndak papa.

Pagi tadi saya bangun tanpa tergesa. Tak harus membangunkan suami dan ngoprak-oprak dia untuk lekas mandi. Sabtu selalu selo. Lepas ia bangun, kami berdua ngobrol-ngobrol santai. Saya iriskan ia buah-buahan untuk sarapan yang setengah siang. Mandi bergantian. Lalu kami meluncur ke kafe langganan. Untuk apa? Tentu wifian. Hahaha.

Di hari ke empat ini saya tidak merasa lapar. Tidak juga mengalami perut keroncongan. Tapi saya  merasakan bahwa indera penciuman saya semakin tajam. Sensitif. Sangat-sangat sensitif pada bau-bauan. Bau bunga melati, bau kamar mandi, bau air, bau kentut suami, bau minyak wangi, bau kopi, bau kentang goreng, bau keringat mas-mas yang lagi lewat, dan yang paling tak tertahankan adalah bau asap kendaraan. Rasanya menusuk otak dan paru-paru. Serupa seratus kali lipat lebih sensitif dari biasanya. Lebay kali ya. Serius. Baru kali ini saya merasai hal macam begini.

Meski merasakan badan sedikit lemas, tapi hari ini saya bahagia. Tau kenapa? Sebab kawan saya yang terbang dari Jerman itu tiba di Jogja sore ini. Itu berarti titipan saya akan segera di tangan. Matras, tas, dan kaos hitam dari Freeleticswear. Kebetulan sekali kawan saya yang satu itu menerima jasa titip barang dari Jerman ke Indonesia maupun sebaliknya. Maka dengan segera saya titip saja. Titip minta dibelikan dan dibawakan ke Indonesia. Mayak tenan ya saya. Ya mau gimana, Freeleticswear kan tidak melayani shipping ke Indonesia.

Nah, sekarang saya harus bersegera ke bandara. Sebab pesawatnya dia tiba di Jogja pukul lima.

Dadaaaaaaaaa!

Yeah, hari ketiga!
Seperti yang sudah-sudah, saya mengawali hari dengan air perasan jeruk lemon. Biasanya lima belas menit pasca menenggak air lemon saya segera minum air mineral sebanyak satu sampai dua gelas. Nah, hari ini entah kenapa saya lupa. Saya baru minum air mineral sekitar jam sebelas siang. Langsung tiga gelas. Supaya tak dehidrasi tentunya.

Hari ini saya tak begitu aktif. Yang saya lakukan sejak pagi hanyalah menyiapkan sarapan untuk suami (mi goreng, telur orak-arik, sosis panggang, dan beberapa iris buah-buahan), kemudian menyapu lantai dan halaman, mengeluarkan jemuran yang kemarin belum kering, membersihkan lantai kamar mandi, mencuci peralatan makan yang kotor, mengutak-atik gadget, dan sebab cuaca mendung-mendung aduhai maka saya angkat jemuran yang untungnya sudah kering, lalu saya mandi keramas supaya otak dan tubuh terasa segar. Selesai mandi, lihat kasur, eh terus saya jadi kepingin tiduran. Jadilah saya tidur siang kira-kira satu setengah jam. Pas bangun, badannya agak lemas. Duh.

Ingin hati mandi lagi, tapi apa mau dikata jika tubuh tak mau diajak kompromi. Ya sudah, akhirnya saya hanya melakukan peregangan badan ringan agar tak merasa lemas-lemas amat.

Saya minum dua gelas air mineral. Kemudian bermain-main dengan kamera dan sosial media, sampai suami saya pulang. Lepas itu kami berdua pergi ke kafe langganan kami. Dan sekarang ya saya nulis ini. Hkhkhkhk.

O, ya. Sebelum berangkat tadi, saya sempatkan diri untuk menimbang berat. Coba tebak berapa? Delapan puluh kilogram! Hahahaha! Bahagia! Tiga hari bisa turun tiga setengah kilogram. Dahsyat, kan? Oh, puja dewa puasa air mineral!

Satu dua kali saya merasakan perut keroncongan. Tapi saya bertekad untuk bertahan. Tentu akan membawa penyesalan nantinya jika saya memutuskan untuk berbuka di hari ketiga hanya karena aroma-aroma yang menggoda. Terlebih aroma sate ayam keliling yang tengah dipanggang. Uwaaakkkhhhhh! Mana tahan?!

Tidak. Saya tidak boleh berhenti di tengah jalan.
Saya akan berhenti jika saya sudah selesai.

*lalu semedi*

Bahagia adalah bangun tidur dan melihat jarum merah timbangan menunjuk angka delapan puluh satu koma lima. Delapan puluh satu koma lima! Dahsyat! Uwuwuw!

Semalam sebelum beranjak tidur, saya sempatkan diri menimbang berat. Masih delapan puluh dua koma lima. Dan pagi ini sungguh wah. Turun satu kilogram pasca tidur selama kira-kira enam jam.

Merasa lapar? Tidak sama sekali.

Pagi tadi, tepat setelah membuka mata, saya tidak langsung beranjak dari tempat tidur. Agak lama bermalas-malasan sebab di luar hujan ringan. Saya tidak merasa lemas letih lesu lunglai letoy maupun lumer (wait, what?!). Sama sekali tidak. Justru saya merasakan energi yang penuh.

Selama menjalani puasa air mineral ini bukan berarti saya boleh tidur seharian tanpa melakukan apa-apa. Pengalaman saya, tidur melulu atau bermalas-malasan seharian justru membuat tubuh menjadi lemas. Maka dari itu, saya tetap menjalani rutinitas harian seperti biasa laiknya ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Nyapu nyuci nyetrika. Pekerjaan ringan sih. Nggak sampai angkat-angkat rumah dari desa ke desa.

Saya memang dengan sengaja memilih melakukan puasa di awal tahun. Sebab mendekati pertengahan nanti biasanya mulai banyak order gaweyan yang datang. Puasa air mineral tentu akan mustahil dilakukan. Sebab pekerjaan saya adalah pemandu wisata. Menguras banyak tenaga. Dalam sebulan saya pasti mendaki ke kawah Bromo dan kawah Ijen minimal sebanyak dua kali. Belum lagi jika mendapat program hiking enam jam non-stop di Toraja. Fyuh, mana bisa saya tidak makan? Olahan daging kerbau di Toraja kan rasanya juara. Mana tahan?! Hahahaha.

Pada intinya, saya tidak boleh bermalas-malasan dengan dalih tengah menjalankan puasa. Tetapi saya juga tidak boleh melakukan pekerjaan yang menguras tenaga supaya tubuh ini tidak cedera.

Juga, yang penting bagi saya adalah berkeringat. Saya harus berkeringat setiap harinya supaya terhindar dari masalah kulit macam gatal-gatal atau ruam yang diakibatkan oleh racun-racun yang terperangkap di dalam jaringan kulit. Satu-satunya jalan adalah membiarkannya keluar lewat keringat. Dengan cara apa? Olahraga ringan. Atau cukup dengan bercocok tanam di halaman depan.

Sekian catatan singkat siang ini ya. Soalnya saya mau mandi lanjut nyetrika.

Dadah babay. Jangan lupa bahagia ya!

Mwahh!

Yeay! Puasa hari pertama berjalan dengan lancar jaya makmur sentosa.
Masyih ada sembilan hari lagi cik! Lanjutkeun!

Pagi tadi saya bangun dengan semangat empat lima dan bahagia. Pipis. Lalu minum air mineral satu gelas. Cek medsos sebentar (oh please, dear. throw away that bad habit. no social media in the morning. period. – haisshh. mbel. opo yo iso haha). Membangunkan suami supaya ia mandi sebelum berangkat ke kantor. Menyapu lantai. Cipika cipiki sama suami kemudian dadah dadah. Setelah ia berangkat, saya baru membuat ramuan mujarab. Air perasan jeruk lemon. Yeah!

Saya ambil satu buah jeruk lemon. Saya peras. Kira-kira satu sloki lah hasilnya. Saya tenggak langsung. Tanpa dicampur gula. Tanpa dicampur madu. Juga tanpa air.

Kenapa saya pilih jeruk lemon? Karena sangat membantu proses pengeluaran racun dari dalam tubuh. Banyak juga orang yang lebih memilih jeruk nipis. Selain mudah didapat, harganya juga jauh lebih murah. Kedua jenis jeruk ini memang hampir sama. Yang membedakan adalah bahwa jeruk lemon memiliki kandungan vitamin C yang sangat tinggi. Sementara pada jeruk nipis yang lebih tinggi adalah kandungan vitamin A.

Selang sepuluh menit, saya baru minum satu gelas air mineral.

Saya mandi. Kemudian berkemas untuk pergi. Sebab di sebelah sedang ada renovasi rumah. Selama pergi (cuma ngendon di kafe internet untuk wifian sih) saya hanya menghabiskan air mineral satu botol sedang.

Sampai rumah, nunggu suami pulang, lalu kita berdua pergi nonton ke bioskop. Kungfu Yoga. Asu. Pungkasan filmnya joget-joget india hahahaha.
Selama nonton saya hanya menghabiskan satu botol kecil air mineral.

Pulang ke rumah, saya minum lagi satu gelas air mineral. Terus nulis catatan ini deh.
Jika dijumlahkan, maka saya minum air mineral sebanyak lebih kurang dua liter. Uwaaakkhh!

Eerrr, saya tidak mematok berapa banyak air mineral yang harus saya konsumsi setiap harinya selama puasa. Saya minum air ya kalau saya merasa haus atau lapar atau sedang ingin saja.

Apakah lapar? Eerrr, pada jam-jam tertentu sih iya. Terlebih ketika mencium aroma makanan. Uwaaakkhh! Menggoda! Saya hirup-hirup aja. Kemudian berseru dalam hati dan pikiran: “Mencium bau makanan aja udah bikin kenyang. Udah, minum air mineral aja.” (Hah. Dasar kau Superego. Tau aja kalau saya lagi puasa. Hahaha.)

Kabar timbangan berat badan? Turun satu kilogram. Hahaha.
Kemarin pas nimbang tertera delapan puluh tiga koma lima. Sekarang jadi delapan puluh dua koma lima kilogram. Uwuwuw!

*kemudian joget-joget kegirangan*

Sekian.
Selamat tengah malam.
Uups.
Selamat dini hari.

Yeay! Sudah memasuki hari kedua.

Mwah!