Tentang Kemanusiaan dan Cinta Kasih

by droserabinata

——— blablablablablah ———
babi 1: enggak perlu bi.. aku masih bisa sendiri kok..
babi 2: tapi aku maunya berdua sama kamu.. kamu nggak maukah?
babi 1: mau bi.. tapi aku juga ingin tetap mandiri bi..
babi 2: emang harus, tapi mandiri yang membahayakan kebersamaan aku nggak mau..
babi 1: mandiri yang membahayakan kebersamaan misalnya apa bi? dilihat dari yang tingkatan paling atas?
babi 2: kerja yang terlalu sibuk atau diperbudak pekerjaan atau dijajah karir! hal-hal yang membuat jadi egois, sok merasa punya, sok merasa dihargai dan lain sebagainya.. pokoknya yang kayak gitu lah bi..
babi 1: kau pernah mengalami yang seperti itu bi?
babi 2: aku liat banyak orang seperti itu dan didikan kapitalis seperti indonesia mengarah ke situ.. lihat aja di jakarta dan kota besar lainnya.. kita waktu di stasiun aja liat orangtua nggak mau minggir waktu kita mau parkir.. itu contoh kecil saja.. lebih mementingkan hal-hal teknis daripada kemanusiaan..
babi 1: iya, sebab kapitalis adanya ya menghisap buruh kan bi..
babi 2: juga menciptakan manusia robot yang bekerja karena dikejar kebutuhan, bukan untuk memenuhi kebutuhan.. setelah dia bisa mengejar kebutuhan itu muncullah prestasi yang sesungguhnya semu dan kemudian dengan gagah orang itu berkata ‘aku je!’, njuk nek wis ngono kui semua kegilaan duniawi dalam rangka egosentris itu selalu hadir.. njuk akhire sifat menungsane ilang.. jadi mandiri itu boleh dan harus, tetapi menjaga sifat kemanusiaan itu lebih harus dan lebih mulia.. karena sesungguhnya kita adalah manusia..
babi 1: iya.. tapi kalau dipikir lagi, kita ini macam manusia yang tak lagi bermasyarakat..
babi 2: iya bi.. sedih ya..
babi 1: iya.. tapi bagaimanapun juga kelas-kelas yang ada tak bisa terelakkan bi, bagaimana kalau kita bumi hanguskan saja? sehingga tercipta masyarakat baru yang tak mengenal adanya kelas-kelas uwel-uwel itu..
babi 2: revolusi untuk hal itu hanya bisa berhasil jika itu adalah revolusi cinta kasih, jadi kita lebur saja hal-hal semacam itu di dalam hati kita dan kemudian ditumbuhkan menjadi cinta kasih..
babi 1: maka jadi harus menunggu keajaiban datang dari langit..
babi 2: keajaiban itu sudah terjadi pada diri kita berdua.. aihhh..
babi 1: tapi dalam skala sangat kecil jika dibandingkan populasi di seluruh dunia ini bi.. dan apakah kita bisa jadi disebut egois?
babi 2: jika kata dasarnya adalah ‘kita’ maka tidaklah egois karena ego itu individu dan kita adalah aku dan kamu..
babi 1: kita dalam perbandingannya dengan kita kita yang lain bi? dalam artian egoku dan egomu (ego individu satu dan ego individu dua) menjadi ego kita..
babi 2: pasti ada kita-kita yang lain yang seperti kita bi.. kupikir cinta kasih itu tak pernah mati.. kalau cinta pasti bisa mati karena cinta lebih sering disalahartikan.. dan dianggap setara kadang-kadang dengan nafsu atau seksualitas semata..
babi 1: tapi cinta kasih bisa berganti hati bi..
babi 2: kok?
babi 1: misal kali ini cinta kasih berpihak padaku, bisa jadi besok ia berpihak pada si ayaya si uyuyu dan si eyeye.. bisa jadi cinta kasih berbelok di tikungan-tikungan jalan, menuju jalan yang sepatutnya dicintakasihi.. bukan begitu bi?
babi 2: itu masih cinta
babi 1: perbedaannya tipis bi? setipis apa?
babi 2: cinta kasih itu seperti yang kutulis dulu, memberi tanpa mengaharapkan balasan dan menerima dengan sepenuh hati tanpa umpatan..
babi 1: lalu bagaimana dengan cinta kasih yang masih didominasi dengan rasa ingin memiliki bi? tak bisa dimasukkan dalam cinta kasih kah?
babi 2: cinta kasih adalah terdiri dari cinta dan kasih dengan demikian di dalamnya pasti ada unsur cinta dan salah satu sifat cinta adalah ingin memiliki itu.. jadi jika rasa ingin memiliki masih mendominasi, kita tidak perlu kemudian menghentikannya, yang perlu dilakukan adalah mengembangkan rasa kasih.. jika rasa kasih bertumbuh dan berkembang maka rasa cinta yang ingin selalu memiliki itu dengan sendirinya berkurang..
babi 1: lalu bagaimana dengan pernyataan ‘cinta tak harus memiliki’ bi? apakah ia telah mencapai pintu cinta kasih? atau malah melenceng jauh?
babi 2: itu ambigu bi.. satu sisi kalimat itu menggambarkan cinta kasih tapi di satu sisi melambangkan orang yang menyerah dan terpaksa merelakan cintanya pergi..
babi 1: lalu pernahkah kau berada dalam posisi yang menyerah dan merelakan sang cinta pergi?
babi 2: tapi kamu sperti polisi.. selalu saja aku yang jadi obyek pertanyaan..
babi 1: heheheheeee.. tak kasih tau bi, tapi jangan bilang-bilang, aku ini sebenarnya bakat jadi detektif.. eeeehhhh, jawabbb..
babi 2: kamu orang yang pengen tahuan..
babi 1: heheheeeee..
babi 2: trus kalo aku ganti tanya kamu jawabnya — kasih tau enggak yaaa..? (opo kui..)
babi 1: heh, nggak usah pake acara ngalihin pembicaraannn.. jawab dulu biiii..
babi 2: jawab dulu semut itu biii..
babi 1: nah kan malah sampai semuttt..
babi 2: ya nggak apa-apa kan sayang..
babi 1: jawab pertanyaanku dulu ih..
babi 2: barusan omong egoisme.. sekarang kamu jadi maksa gini..
babi 1: yaudah deh, aku nggak jadi tanya deh.. mungkin pertanyaanya nggak bersahabat ya.. maaf ya bi..
babi 2: hahaha.. lha kok kamu malah jadi menebak-nebak bi? istilahnya bukan menyerah dan merelakan tapi ‘menyadari keadaan’..
——— blablablablablah ———

About these ads